Senin, 21 Februari 2011

Hari Esok yang Pasti Cerah! (Saya bilang ini Moment)



Kisaran Pukul 10.00 – 14.00,

Saat Matahari mencorot sekuat-kuatnya,

Lain cerita misal kondisi mendung gelap gulita,

Pokoknya saya bilang Moment kalo emang kondisi sesuai dengan yang dituliskan.


Ya, pasca sidang skripsi khusus bagi mereka, Akbar-Firman. (dan tentu tidak bagi saya)

Saat galau menyongsong masa depan yang roman-romannya cerah.

Saat mulai panik, ngeliat rekan seangkatan kerja di Law Firm ternama dan belum ternama,

Namun kita sedang tidur telentang sambil garuk-garuk selangkang.


Ya, this is our turn.

Akbar lah Sang Penggagas,

Penggagas untuk mulai apply CV di Law Firm litigasi.

Kenapa litigasi?

Konon kita adalah sosok yang berkecimpung, dan malang (melintang) di bidang Hukum Acara.

Dari mulai tidak lulus Mata Kuliah Hukum Acara Perdata,

sampai dengan bertubi-tubi gagal lulus di Mata Kuliah Hukum Acara Tata Usaha Negara.

That’s why, penggunaan kata sosok dirasa tidak berlebihan menurut saya.


Tidak peduli punya om menteri (buat Akbar)

Tidak peduli punya bapak eselon IV (buat Akbar)

Tidak peduli punya ibu sekwilda (buat Akbar)

Tidak peduli punya sodara Letnan Jendral (buat Firman)

Terseok-seok tetaplah terseok-seok (tentunya buat saya)


Entah itu di daerah Cengkareng, Tangerang, atau Narogong,

Pokoknya ada “ng”nya, tempat tujuan pertama kita buat ngelamar kerja di bilangan barat sana.

Ya, Tirta Marta namanya, entah Law Firm atau perusahaan yang bergerak di bidang kecantikan,

Pokoknya dapet kabar disitu buka lowongan kerja (titik)


Meluncurlah kita kesana,

Matahari bener-bener lagi show off,

Apalagi kantor tujuan berlokasi di daerah pabrik, berlahan tandus

Namun mau bagaimana, tampaknya di lahan tandus itu terdapat sebuah Oase berlabel Tirta Marta.

Sampailah kita ditujuan,

CV alakadarnya terpatri di meja sang empunya kantor.

Entah dibaca atau dijadiin tatakan bakwan.

Yang penting, CV diterima.


Dan langsung saja setelah itu kami balik ke peraduan.

Kebetulan Gori rekan sejawat yang cepat sekali mapan berkesempatan menemani kami.

Saat Firman dan saya bertanya-tanya dalam diam,

saat Akbar lagi sibuk pencetin jerawat,

Gori sedang asik menyusun uang berdasarkan nomor seri.

Jompalng memang, begitulah ketimpangan sosial di luar sana (harap tidak ditafsirkan secara letterlijk)


Terik, panas, dan dahaga

Begitulah kondisi di luar sana

Begitu berkesan dan berkenang

Sukses butuh perjuangan, Kawan!

__________

100% bukan ratapan

Kisah perjalanan mahasiswa di akhir masa studinya,

Mencoba meraih masa depan, yg diharap baik

Salam Semangat!


Kutcher - yang sedang meniti karier

"ITU"

Enggan rasanya membahas dan menuang rasa soal "itu"
Bahkan tampak memalukan (paling tidak bagi saya) untuk menyebutnya
Sampai kata "itu" pun terpaksa dikorbankan untuk mengganti


Hanya mencoba berbagi,
Meringankan beban dengan curahan berbentuk kata-kata dengan permainan diksi
Sedikit membantu (though only slightly)


Soal "itu"
Bila jalinan "itu" telah berlangsung begitu lama,
Dan rasa itu membekas.
Dahulu sinergis,
Namun kini tidak.


Kemudian dia kembali,
Menengok masa lalu, untuk bermain-main sejenak,
Mengisi sedikit kekosongan,
Lalu kembali pergi.


Kesadarannya akan ketidakadilan,
Baru muncul kemudian.
Ya, selalu kemudian.


_______

Salam Pengorbanan,
konsekuensi dari sebuah rasa "itu"

Kutcher - yang sedang unyu lagi ke-ituitu-an

Singgah (Sedang Unyu)


Mungkin anda semua sudah tau, rasa senang dan bahagia begitu nyaman.

Namun terkadang anda pura-pura tidak tau,

kalau rasa itu memiliki masa dalam waktu,

dan batas dalam kondisi.

Karena anda enggan beranjak dari kenyamanan.


Mungkin anda sudah tau, rasa sakit dan kesedihan begitu memilu.

Namun terkadang anda dipaksa tidak tau,

kalau rasa itu juga memiliki masa dan batas.

Karena batin anda, telah dibajak oleh lara,

yang tak logis dan membutakan nyata.


Yaa, senang dan nyaman baru saja hinggap dalam beberapa hari terakhir.

Namun kini, telah berganti dengan sakit dan pilu.

Terduga sebelumnya, tak kaget sekaligus heran.

Paham akan akhir,

Master dalam kondisi.

Namun, jenis rasa tetap tak berubah,

menyakitkan.


Katanya kesibukan jadi solusi?

Bagaimana kalau memang tak ada kesibukan?

Apakah menjadi tak bersolusi?

Mungkin jawabannya hanya satu,

yaitu waktu.

Biar waktu yang mengurai.


Namun lagi-lagi waktu memiliki masa,

masa yang harus dilewati.

Baik, kalau masa itu berupa sukacita.

Tapi suram apabila masa itu berupa duka.

Konsekuensi? Ya.. konsekuensi.

Apalagi kalau bukan permainan Cinta.



Walau saya tau dia milik siapa.

Tapi saya pun tak bisa abaikan hati ini berkata apa.

Walau baginya ini hanya persinggahan,

Tapi bagi saya ini pengorbanan.

Pengorbanan dari rasa senang sekaligus bahagia,

Senyum sekaligus tawa, walau saya tau hanya sesaat.

Dan kini (kembali) berakhir.


Kutcher - yang sedang tidak senyum apalagi tertawa