Selasa, 03 Mei 2011

Alkisah..


Dear, Pembaca

Alkisah…

Masih sayang banget sama mantan pacar yang kini ud punya pacar itu emang perbuatan hina sekelas kaleng rombeng. Bagi penderitanya pantes buat ditimpukin orang sekampung, sambil diteriakin kopet.

Sebagaimana halnya seorang saya, yang tumbuh dan berkembang secara sempurna namun kurang tinggi menderita kegalauan akut pengen balikan dengan sang mantan. Namun apadaya, sang mantan (“dia”) proper dengan statusnya sebagai pacar orang.

Suatu ketika saat hubungan dia dengan lakinya (“kutu”) lg kurang mesra. Satu hal yang pasti saya harapin adalah dia putus dengan kutu. Kemudian saya sigap menyediakan bahu dan dada bidang ini sebagai tempat dia bersandar dan mengadu. Kemudian berujung pada kata “balikan yuk!”. Namun, terkadang harapan memang tidak segendang seirama dengan kenyataan.

Udah sebulan lebih saya kembali mesra sama dia. Sms-an dan teleponan pake paket obral-obrol pun udah jadi hal rutin tiap hari. Saling mengabari, manja-manjaan, bahkan dirty talk-pun kembali terjalin. Sungguh aduhai rasanya.

Di tengah bulan yang penuh kemesraan, ada moment dimana saya pergi jalan-jalan sejenak ke luar kota. Tak sedetik pun pikiran ini beralih darinya. Kemanapun kaki ini melangkah, disitu pula bayangannya melayang. Entah demit atau orang, dia tetap pujaan saya.

Oleh-oleh khas kota tersebut tentunya ga ketinggalan saya beliin buat dia, ini buktinya:


a). Kerupuk Kemplang




b). Keripik Pisang "Kepo"



Sekembalinya saya ke rutinitas yang semula saya pikir penuh cinta berwarna pinky, ternyata lama-kelamaan kian pudar butek biru keungu-unguan. Kini harapan itu sirna. Dia kembali mesra merajut kasih dengan si kutu. Oleh-oleh yang tak seberapa namun penuh kesan dan aroma cinta tiada tara pun terbengkalai tanpa tau berujung ke mulut siapa. Tak ada lagi sms, telepon, atau semacamnya. Yang tertinggal hanyalah sederet namanya dalam inbox ponsel, dan………… di dalam hati yang luka ini. Caelaaahhh…

Sekian dan terima kasih,

Regards,


Kutcher
­­­­

The Associate­­

Selasa, 08 Maret 2011

Keyakinan Liberal, diantara Permainan Logika dan Konspirasi


Entah kenapa kali ini saya tertarik untuk membahas masalah lama, teori klasik yg kini semakin menggemuk dan tampak subur. Entah karena asupan politik yg kian sehat, atau maya yg lingkupnya kian menjaring. Atau mungkin karena keduanya saling sinergis.

Dari akses yg semakin luas, ajaran pun makin menggema. Terdengung indah, terkemas manis. Walau buah karya hasil manusia biasa, dengan logika berpikir yg kemanusia-manusiaan. Siapa coba yg nggak terbuai?!


Yaa.. mungkin karena kisruh politik, yg tiap hari hangat diomongin di koran, tv, atau jejaring. Sekaligus cuap-cuap kaum pemikir dengan topik bawaannya yg melulu menjunjung tinggi kebebasan dengan mengkerdilkan nilai yg lain. Makanya saya tertarik untuk ikut-ikutan komentar disini.

Tema besarnya adalah masalah politik yg tanpa sengaja menyeret perang ideologi /keyakinan, atau lebih tepatnya cara dalam meyakini. Dimulai dari: 1). Kaget, baru tau kalau Sang Penggagas yang Berjiwa Penuh Toleransi dan Bermulut Manis itu ternyata partisan dan berkedudukan (berarti akses lebih dari cukup). Damn!!; 2). Sikut-sikutan antar partai (bukan untuk kepentingan rakyat pastinya), yang awalnya murni politik, sekarang nyeret perang ideologi. Entah murni yg diserang partainya atau aliran yg merefleksikan suatu ajarannya?! Silahkan anda nilai sendiri ; 3). Napsu menggebu bangat sangat amat Sang Penggagas dan teman sesama founder, buat menggulingkan dan mereplace posisi strategis. Mungkin lagi-lagi demi akses yg lebih baik.


Salah seorang temen komentar soal Liberal, dia bilang "Yg namanya liberal ya intinya bebas. Kalo liberal gw ga masalah, tapi kalo udah bawa-bawa soal agama, baru dah gw bingung. Agama mana coba yg liberal?? Yg namanya agama kan ga bebas, semua ada batasannya." Nah, sekarang saya mungkin bisa balikin ke anda semua yg menjunjung kebebasan dan toleransi, atau nama lainnya aliran ke-liberal-liberal-an. Keyakinan anda yg menghasilkan ajaran suci sekaligus aturan itu, mau ga di-liberal-in?!?

Dan lagi, temen saya bilang "Demi apa sih mereka rusak2 aqidah gitu? Duit?" <--- Nah.. untuk yang satu ini, coba tanyakan pada rumput yang bergoyang! Pokoknya, entah mereka sebuah jaringan, atau antek, atau mungkin sebuah program untuk melemahkan ukuwah. Yang pasti saya (dan teman saya yg komentar barusan) berbeda jalan dengan mereka, yg semuanya dinilai pake logika. Masa agama dilogikain. Beda pondasi. Agama dasarnya iman. Klo pemikiran pake akal dan logika. Klo dasarnya emang goyang iman, mending ga usah berlogika soal agama. Maksa jatohnya! Demikian!!

Minggu, 06 Maret 2011

Ragam Blogger


Dahulu saya pernah mengklasifikasikan blogger berdasarkan jenis kontennya ke dalam beberapa golongan (kalau tidak boleh menyebutnya kasta). Berikut akan saya sebut tanpa maksud menghierarkikan golongan. Namun apa boleh buat, secara tidak tak sengaja saya buat seolah-olah berhierarki:

  1. Blogger Pemikir, yang isi blognya ilmiah. Tentang materi-materi pelajaran atau topik-topik serius. Kebanyakan yg nulis punya titel serenceng, panjang berentet. Baik lulusan luar negeri, maupun dalem negeri. Asal punya titel panjang, anda bebas sok pinter, bikin dalil, dan bakal dianggap bener. Tujuannya cuma satu: Pencitraan ;
  2. Blogger Penyalur Bakat/Hobi, yang isi blognya biasanya hasil buah karya pribadi yang siap dinarsiskan atau dipamerkan ke orang banyak. Misal hobinya potograpi, maka dia bakal mamerin hasil jepretannya yg cihuy-cihuy. Atau bisa juga berisikan tips menarik wa solutif dari bakat si blogger itu sendiri. Sukur-sukur tips murni dari dirinya sendiri, atau mentok2 comot sana-sini dari blog orang/sumber lain ;
  3. Blogger Kesepian. Naah.. Blogger macam ini isi blognya segala unek-unek, dan beragam curhatan labil. Dia seolah-olah hidup sebatang kara, melankolis, dan cukup sensitif. Ga punya teman berjiwa dan beraga untuk diajak sharing. Biasanya hatinya penuh luka, pilu, dan hasrat mengurai kisah unyu-unyu begitu besar. Berharap ceritanya lucu dan selera ABG, siapa tau beruntung bisa dibukuin dan dibikin pilem ; (harap jgn merujuk ke siapa2, #kode)
  4. Blogger Pedagang, yang isi blognya barang dagangan semua. Penuh display barang2 menarik, baik baju, aksesoris, sepatu, atau bahkan sex toys. Ini sebenernya blogger oportunis. Dengan ciri sapaan hangat dan ucapan mesra kepada si customer, "Hii, Sis.. Mau androk warna apa??" Dia berhasil meluluhkan pelanggan buat beli barang dagangan selusin ;
  5. Blogger Plagiat. Isi blognya kopian semua. Rajin posting udah kaya ngejar ISO. Tapi isinya kutipan semua. Nyoohh!; dan
  6. Blogger Lain-Lain.

Mungkin masih banyak jenis blogger lain yang bisa kita temuin, sebagaimana mengikuti perkembangan musim dan sekaligus selera Menkominfo. Untuk itu, golongan blogger di luar yang disebutkan di atas, Saya masukkan ke jenis "Blogger Lain-Lain".

Demikian sekilas pembahasan tentang klasifikasi blogger berdasarkan kontennya. Tidak bermaksud mengunggulkan salah satu dengan yang lainnya. Karena pun saya mungkin masuk diantaranya golongan kurang mutu, karena disitulah selera saya.


______________
Salam, Kutcer yg kurang bermutu.

Senin, 21 Februari 2011

Hari Esok yang Pasti Cerah! (Saya bilang ini Moment)



Kisaran Pukul 10.00 – 14.00,

Saat Matahari mencorot sekuat-kuatnya,

Lain cerita misal kondisi mendung gelap gulita,

Pokoknya saya bilang Moment kalo emang kondisi sesuai dengan yang dituliskan.


Ya, pasca sidang skripsi khusus bagi mereka, Akbar-Firman. (dan tentu tidak bagi saya)

Saat galau menyongsong masa depan yang roman-romannya cerah.

Saat mulai panik, ngeliat rekan seangkatan kerja di Law Firm ternama dan belum ternama,

Namun kita sedang tidur telentang sambil garuk-garuk selangkang.


Ya, this is our turn.

Akbar lah Sang Penggagas,

Penggagas untuk mulai apply CV di Law Firm litigasi.

Kenapa litigasi?

Konon kita adalah sosok yang berkecimpung, dan malang (melintang) di bidang Hukum Acara.

Dari mulai tidak lulus Mata Kuliah Hukum Acara Perdata,

sampai dengan bertubi-tubi gagal lulus di Mata Kuliah Hukum Acara Tata Usaha Negara.

That’s why, penggunaan kata sosok dirasa tidak berlebihan menurut saya.


Tidak peduli punya om menteri (buat Akbar)

Tidak peduli punya bapak eselon IV (buat Akbar)

Tidak peduli punya ibu sekwilda (buat Akbar)

Tidak peduli punya sodara Letnan Jendral (buat Firman)

Terseok-seok tetaplah terseok-seok (tentunya buat saya)


Entah itu di daerah Cengkareng, Tangerang, atau Narogong,

Pokoknya ada “ng”nya, tempat tujuan pertama kita buat ngelamar kerja di bilangan barat sana.

Ya, Tirta Marta namanya, entah Law Firm atau perusahaan yang bergerak di bidang kecantikan,

Pokoknya dapet kabar disitu buka lowongan kerja (titik)


Meluncurlah kita kesana,

Matahari bener-bener lagi show off,

Apalagi kantor tujuan berlokasi di daerah pabrik, berlahan tandus

Namun mau bagaimana, tampaknya di lahan tandus itu terdapat sebuah Oase berlabel Tirta Marta.

Sampailah kita ditujuan,

CV alakadarnya terpatri di meja sang empunya kantor.

Entah dibaca atau dijadiin tatakan bakwan.

Yang penting, CV diterima.


Dan langsung saja setelah itu kami balik ke peraduan.

Kebetulan Gori rekan sejawat yang cepat sekali mapan berkesempatan menemani kami.

Saat Firman dan saya bertanya-tanya dalam diam,

saat Akbar lagi sibuk pencetin jerawat,

Gori sedang asik menyusun uang berdasarkan nomor seri.

Jompalng memang, begitulah ketimpangan sosial di luar sana (harap tidak ditafsirkan secara letterlijk)


Terik, panas, dan dahaga

Begitulah kondisi di luar sana

Begitu berkesan dan berkenang

Sukses butuh perjuangan, Kawan!

__________

100% bukan ratapan

Kisah perjalanan mahasiswa di akhir masa studinya,

Mencoba meraih masa depan, yg diharap baik

Salam Semangat!


Kutcher - yang sedang meniti karier

"ITU"

Enggan rasanya membahas dan menuang rasa soal "itu"
Bahkan tampak memalukan (paling tidak bagi saya) untuk menyebutnya
Sampai kata "itu" pun terpaksa dikorbankan untuk mengganti


Hanya mencoba berbagi,
Meringankan beban dengan curahan berbentuk kata-kata dengan permainan diksi
Sedikit membantu (though only slightly)


Soal "itu"
Bila jalinan "itu" telah berlangsung begitu lama,
Dan rasa itu membekas.
Dahulu sinergis,
Namun kini tidak.


Kemudian dia kembali,
Menengok masa lalu, untuk bermain-main sejenak,
Mengisi sedikit kekosongan,
Lalu kembali pergi.


Kesadarannya akan ketidakadilan,
Baru muncul kemudian.
Ya, selalu kemudian.


_______

Salam Pengorbanan,
konsekuensi dari sebuah rasa "itu"

Kutcher - yang sedang unyu lagi ke-ituitu-an

Singgah (Sedang Unyu)


Mungkin anda semua sudah tau, rasa senang dan bahagia begitu nyaman.

Namun terkadang anda pura-pura tidak tau,

kalau rasa itu memiliki masa dalam waktu,

dan batas dalam kondisi.

Karena anda enggan beranjak dari kenyamanan.


Mungkin anda sudah tau, rasa sakit dan kesedihan begitu memilu.

Namun terkadang anda dipaksa tidak tau,

kalau rasa itu juga memiliki masa dan batas.

Karena batin anda, telah dibajak oleh lara,

yang tak logis dan membutakan nyata.


Yaa, senang dan nyaman baru saja hinggap dalam beberapa hari terakhir.

Namun kini, telah berganti dengan sakit dan pilu.

Terduga sebelumnya, tak kaget sekaligus heran.

Paham akan akhir,

Master dalam kondisi.

Namun, jenis rasa tetap tak berubah,

menyakitkan.


Katanya kesibukan jadi solusi?

Bagaimana kalau memang tak ada kesibukan?

Apakah menjadi tak bersolusi?

Mungkin jawabannya hanya satu,

yaitu waktu.

Biar waktu yang mengurai.


Namun lagi-lagi waktu memiliki masa,

masa yang harus dilewati.

Baik, kalau masa itu berupa sukacita.

Tapi suram apabila masa itu berupa duka.

Konsekuensi? Ya.. konsekuensi.

Apalagi kalau bukan permainan Cinta.



Walau saya tau dia milik siapa.

Tapi saya pun tak bisa abaikan hati ini berkata apa.

Walau baginya ini hanya persinggahan,

Tapi bagi saya ini pengorbanan.

Pengorbanan dari rasa senang sekaligus bahagia,

Senyum sekaligus tawa, walau saya tau hanya sesaat.

Dan kini (kembali) berakhir.


Kutcher - yang sedang tidak senyum apalagi tertawa